Kehamilan

Sabtu, 23 April 2016

58 LANGKAH ASUHAN PERSALINAN NORMAL

 11 april 2016
by : Lisna Ayu Kurniawati 

Mengenali Gejala dan Tanda Kala II

1.      Mengenali dan Melihat adanya tanda persalinan kala II Yang dilakukan adalah: tingkat kesadaran penderita, pemeriksaan tanda-tanda :

a.   Ibu mempunyai keinginan untuk meneran

b.  Ibu merasakan tekanan yang semakin meningkat pada  rektum dan vaginanya.

c.   Perineum menonjol .

d.    Vulva vagina dan sfingter ani membuka.

Menyiapkan Pertolongan Persalinan .

2. Memastikan perlengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial untuk  menolong persalinan dan menatalaksana komplikasi ibu dan bayi baru lahir. Untuk resusitasi → tempat datar, rata, bersih, kering dan hangat, 3 handuk atau kain bersih dan kering, alat penghisap lendir, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm diatas tubuh bayi.

a.    Menggelar kain diatas perut ibu. Dan tempat resusitasi serta ganjal bahu bayi.

b.   Menyiapkan oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai di dalam partus set.

3.  Pakai celemek plastik yang bersih.

4. Melepaskan dan menyimpan semua periasan yang dipakai, mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir dan mengeringkan  tangan dengan handuk pribadi yang kering dan bersih.

5. Memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk pemeriksaan dalam.

6. Masukan  oksitosin 10 unit kedalam tabung suntik (gunakan tangan yang memakai sarung tangan disinfeksi  tinggkat tinggi atau steril.

Memastikan Pembukaan Lengkap Dan keadaan Janin Bayi.

7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-hati dari depan kebelakang dengan menggunakan kapas atau kasa yang sudah di basahi air disinfeksi tingkat tinggi.

a.    Jika Introitus vagina, perineum, atau anus terkontaminasi tinja, bersihkan dengan kasa dari arah depan ke belakang.

b.   Buang kapas atau kasa pembersih (terkontaminasi) dalam wadah yang tersedia.

c.    Ganti sarung tangan jika terkontaminasi (dekontaminasi, lepaskan dan rendam dalam larutan klorin 0,5 % → langkah 9.

8.  Lakukan Periksa dalam untuk memastikan pembukaan lengkap

  • Bila selaput ketuban belum pecah dan pembukaan sudah lengkap maka lakukan amniotomi.

9.  Dekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam larutan korin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam keadaan terbalik serta merendamnya selama 10 menit. Cuci kedua tangan setelah sarung tangan dilepaskan.

10. Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal.

Menyiapkan Ibu Dan Keluarga Untuk Membantu proses pimpinan meneran.

11.Memberi tahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, membantu ibu dalam posisi yang nyaman sesuai keinginannya.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk  meneran.

( pada saat adanya his, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan dia merasa   nyaman ).

13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk    meneran.

14. Ajarkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit.

Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi

15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm meletakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi.

16. Meletakan kain yang bersih di lipat 1/3 bagian di bawah bokong ibu.

17. Membuka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.

18. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan.

Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi.

Lahirnya kepala.

19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakan tangan yang lain di kepala bayi untuk menahan posisi defleksi dan membantu lahirnya kepala, menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan saat kepala lahir.

20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang sesuai jika terjadi lilitan tali pusat.

a.    Jika tali pusat melilit leher secara longgar, lepaskan lewat bagian atas kepala bayi.

b.   Jika tali pusat melilit leher secara kuat, klem tali pusat didua tempat dan potong diantara kedua klem tersebut.

21. menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran peksi luar secara spontan.Lahirnya Bahu

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tepatkan ke dua tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu untuk meneran saat kontraksi berikutnya, dengan lembut menariknya kearah bawah dan kearah luar sehingga bahu anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan lembut menarik ke arah atas dan kearah luar untuk melahirkan bahu posterior. Lahirnya badan dan tungkai

23. Setelah kedua bahu di lahirkan, menelusurkan tangan mulai kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ketangan tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat melewati perineum, gunakan tangan bagian bawah saat menyangga tubuh bayi saat dilahirkan.Menggunakan tangan anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan anterior saat bayi keduanya lahir.

24. Setelah tubuh dan lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada di atas

( anterior ) dari punggung kearah kaki bayi untuk menyangga saat punggung dan kaki lahir memegang kedua mata kaki bayi dan dengan hati – hati membantu kelahiran kaki.

Penanganan Bayi Baru Lahir.

25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakan bayi diatas perut ibu di posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakan bayi di tempat yang memungkinkan).

26. Segera mengeringkan bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Biarkan bayi diatas perut ibu.

27. Periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal).

28. Beritahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik..

29. Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntukan oksitosin 10 unit IM (Intara muskuler) 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikan oksitosin).

30. Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat  bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem dari arah bayi dan memasang klem ke dua  2 cm dari klem pertama ke arah ibu.

31. Pemotongan dan pengikatan tali pusat

a.    Dengan satu tangan, pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan penguntungan tali pusat diantara dua klem tersebut.

b.   Ikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya.

c.    Lepaskan klem dan masukan dalam wadah yang telah disediakan.

32. Letakkan bayi agar ada kontak kulit ibu ke kulit bayi. Letakkan bayi   tengkurap didada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada/perut ibu. Usahan kepala bayi berada diantara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting payudara ibu.

33. Selimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan pasang topi dikepala bayi.

Penatalaksanaan Aktif  Persalinan Kala III.

Oksitosin

34. Memindahkan klem pada tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva.

35. Meletakan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat diatas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus, memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.

36. Setelah uterus berkontraksi, tegangkan tali pusat ke arah bawah sambil tangan yang lain mendorong uterus ke arah belakang – atas ( dorso – kranial) secara hati-hati (untuk mencegah inversio uteri). Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan tunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan ulangi prosedur diatas.

  • Jika uterus tidak segera berkontraksi, minta ibu, suami atau anggota keluarga untuk melakukan stimulasi puting susu.

Mengeluarkan Plasenta

37. Lakukan penegangnan dan dorongan dorso-kranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah sejajar lantai dan kemudian kearah atas, mengikuti poros jalan lahir, (tetap lakukan tekanan dorso-kranial)

a.    Jika tali pusat bertambah panjang, pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5-10 cm dari vulva dan lahirkan plasenta.

b.   Jika plasenta tidak lepas setelah 15 menit menegangkan tali pusat:

1.   Beri dosis ulangan oksitosin 10 unit IM

2.   Lakukan kateterisasi (aseptik) jika kandung kemih penuh.

3.   Minta keluarga untuk menyiapkan rujukan.

4.   Ulangi penegangna tali pusat 15 menit berikutnya.

5.   Jika plasenta tidak lahir dalam 30 menit setelah bayi lahir atau bila terjadi perdarahan, segera lakukan plasenta manual.

38.  Saat plasenta terlihat di introitus vagina, lahirkan plasenta dengan menggunakan ke dua tangan, pegang dan putar plasenta hingga selaput ketuban terpilih kemudian lahirkan dan tempatkan plasenta pada wadah yang telah disediakan.

  • Jika selaput ketuban robek, pakia sarung tangan DTT atau steril untuk melakukan eksplorasi sisa selaput kemudian gunakan jari-jari tangan atau klem DTT atau steril untuk mengeluarkan bagian selaput yang tertinggal.
  • Rangsangan Taktil (Masase) Uterus.

39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan Masase uterus, meletakan telapak tangan di fundus dan melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga uterus berkontraksi ( Fundus menjadi keras).

  • Lakukan tindakan yang diperlukan jika uterus tidak berkontraksi setelah 15 detik masase.

Menilai Perdarahan

40. Memeriksa kedua sisi placenta baik bagian ibu maupun bayi dan pastikan selaput ketuban lengkap dan utuh. Masukan plesenta kedalam kantung plastik atau tempat khusus.

41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.

Bila ada robekan yang menimbulkan perdarahan aktif segera lakukan penjahitan.

Melakukan Prosedur paska persalinan

42. Pastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi  perdarahan pervaginam.

43. Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam.

a.    Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan inisiasi menyusu dini dalam waktu 30-60 menit. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit bayi cukup menyusu dari satu payudara.

b.   Biarkan bayi berada didada ibu selama 1 jam walaupun bayi sudah berhasil menyusu.

44. Setelah 1 jam, lakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir, beri antibiotika salep mata pencegahan, dan vit K 1 mg IM di paha kiri anterolateral.

45. Setelah 1 jam pemberian vit K berikan suntikan imunisasi hepatitis B di paha kanan anterolateral. Letakan bayi didalam jangkawan ibu agar sewaktu-waktu bisa disusukan. Letakan kembali bayi pada dada ibu bila bayi belum berhasil menyusu 1 jam pertama dan biarkan sampai bayi berhasil menyusu.

Evaluasi

46. Lakukan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam.

1)                  2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.

2)                  Setiap 15 menit pada 1 jam pertama paska persalinan.

3)                  Setiap 20-30 menit pada jam kedua paska persalinan

4)                  Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik, melakukan asuhan yang sesuai untuk menatalaksanaan atonia uteri.

47. Ajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi.

48. Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah.

49. Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama paska persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua paska persalinan.

a.    Memeriksa temperatur tubuh ibu sekali setiap jam selama 2 jam pertama paska persalinan

b.   Melakukan tindakan yang sesuai untuk temuan yang tidak normal.

50. Periksa kembali bayi dan pantau setiap 15 menit untuk pastikan bahwa bayi bernapas dengan baik (40-60 kali/menit) serta suhu tubuh normal (36,5-37,5 0C).

  • Jika bayi sulit bernapas, merintih atau retraksi, diresusitasi dan segera merujuk kerumah sakit.
  • Jika bayi napas terlalu cepat, segera dirujuk.
    • Jika kaki teraba dingin, pastikan ruangan hangat. Kembalikan bayi kulit kekulit dengan ibunya dan selimuti ibu dan bayi dengan satu selimut.

Kebersihan Dan keamanan

51. Tempatkan semua peralatan dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi

( 10 menit ), mencuci dan membilas peralatan setelah didekontaminasi.

52. Buang bahan – bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat sampah yang sesuai.

53. Bersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat tinggi. Bersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu untuk memakai pakaian yang bersih dan kering.

54. Pastikan bahwa ibu nyaman, membantu ibu memberikan ASI, menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman dan makanan yang diinginkan.

55. Dekontaminasi tempat bersalin dengan klorin 0,5% .

56. Mencelupkan sarung tangan kotor kedalam larutan klorin 0,5% membalikan bagian sarung tangan dalam ke luar dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air yang  mengalir.

Pendokumentasian

58. Lengkapi patograf (Halaman depan dan belakang, periksa tanda vital dan asuhan kala IV). ( APN 2008)



AKADEMI KEBIDANAN UMMI KHASANAH BANTUL YOGYAKARTA
www.akbiduk.ac.id

CARA DAN TEKNIK MENYUSUI YANG BENAR


Kegagalan menyusui sering disebabkan karena kesalahan memposisikan dan melekatkan bayi. Puting ibu menjadi lecet sehingga ibu jadi segan menyusui, produksi ASI berkurang dan bayi menjadi malas menyusu.

Adapun langkah menyusui bayi yang benar:
1. Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir. 
2. Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan areola sekitarnya. Manfaatnya adalah sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 
3. Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung.Posisikan bayi dengan benar
    • Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu.
    • Perut bayi menempel ke tubuh ibu.
    • Mulut bayi berada di depan puting ibu.
    • Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada ibu.
    • Telinga dan lengan yang di atas berada dalam satu garis lurus.
4. Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dan putting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi
5. Cek apakah perlekatan sudah benar
    • Dagu menempel ke payudara ibu.
    • Mulut terbuka lebar.
    • Sebagian besar areola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi.
    • Bibir bayi terlipat keluar.
    • Pipi bayi tidak boleh kempot (karena tidak menghisap, tetapi memerah ASI).
    • Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunti menelan.
    • Ibu tidak kesakitan.
    • Bayi tenang.
    • Apabila posisi dan perlekatan sudah benar, maka diharapkan produksi ASI tetap banyak.
      Teknik menyusui adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perlekatan dan posisi ibu dan bayi dengan benar (Perinasia, 1994). Dalam waktu 30 menit setelah melahirkan, sebaiknya Ibu mulai menyusui bayinya, karena refleks hisap bayi paling kuat pada jam pertama dan hisapan bayi pada puting susu ibu akan merangsang pengeluaran hormon prolaktin untuk sekresi dan hormon oksitosi untuk mengeluarkan ASI dan mempercepat kontraksi uterus. Selain itu kontak dini akan memperkuat hubungan bayi dan ibu.

      Cairan yang pertama kali disekresikan oleh kelenjar payudara disebut kolustrum, dalam kolustrum konsentrasi imunoglobulin sangat tinggi. Volumenya berkisar 150-300 ml/24jam, yang merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning- kuningan lebih banyak mengandung antibody yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur 6 bulan, juga merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernakan makanan bayi.

      Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami berbagai masalah karena tidak mengetahuinya cara menyusui yang benar. Oleh sebab itu untuk mencapai keberhasilan menyusui diperlukan pengetahuan mengenai teknik menyusui. Lalu bagaimana posisi menyusui bayi yang baru lahir dengan benar? berikut beberapa langkah yang harus diperhatikan:

      Persiapan memperlancar pengeluaran ASI dilaksanakan dengan jalan:

      • Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas tidak menumpuk.
      • Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan isapan bayi.
      • Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan operasi


      Macam-Macam Posisi Menyusui Bayi yang Benar

      Dalam menyusui, terdapat macam posisi menyusui, cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk, berdiri atau berbaring.

      Posisi menyusui sambil berdiri yang benar
      Posisi menyusui sambil berdiri yang benar



      Posisi menyusui sambil duduk yang benar 
      Posisi menyusui sambil duduk yang benar



      Posisi menyusui sambil rebahan yang benar
      Posisi menyusui sambil rebahan yang benar



      Posisi menyusui balita pada kondisi normal
      Posisi menyusui balita pada kondisi normal




      Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan
      Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di ruang perawatan



      Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah dengan tiduran
      Posisi menyusui bayi baru lahir yang benar di rumah dengan tiduran



      Posisi menyusui bayi bila ASI penuh
      Posisi menyusui bayi bila ASI penuh 


      Posisi menyusui bayi kembar secara bersamaan

      Posisi Cara menyusui bayi kembar secara bersamaan


      AKADEMI KEBIDANAN UMM KHASANAH YOGYAKARTA
      WWW.AKBIDUK.AC.ID

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL PADA NY.K UMUR 30th P1 A0 2 JAM POST PARTUM DI BPM SRI HARYANTI SUKOHARJO

                                 Tahap Bahaya Nifas
1.      Demam yang lebih dari 2 hari
2.      Perdarahan aktif
3.      Keluar banyak bekuan darah
4.      Bau busuk dari vagina
5.      Pusing
6.      Lemas luar biasa
7.      Penyulit dalam menyusukan bayinya
8.      Nyeri panggul atau abdomen yang lebih hebat dari nyeri kontraksi biasa
 Perubahan – perubahan Fisiologis Masa Nifas
1.      Perubahan Pada Sistem Kardiovaskuler
Setelah melahirkan, sitem kardiovaskuler akan kembali pada kondisi seperti sebelum hamil. Setelah 12 – 24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma karena proses imbilisi cairan dari ekstravaskuler ke dalam pembuluh darah yang kemudian akan diikuti oleh periode duresis yang terjadi diantara hari ke – 2 dan ke – 5 pasca persalinan yang mengakibatkan terjadinya penurunan volume plasma / (hemo konsentrasi). 2 minggu pasca persalinan merupakan periode penyesuaian untuk kembali ke nilai volume  plasma seperti sebelum hamil. Sistem kardiovaskuler pulih kembali ke keadaan seperti sebelum hamil dalam tempo 2 minggu pertama masa nifas.
2.      Perubahan – perubahan Pada Alat – alat Kandungan
a.       Uterus
Perubahan dalam uterus rahim :
Involusi / pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hingga 60 gram.
Bobot Uterus
Diameter Uterus
Palpasi Serviks
Pada akhir persalinan
Pada akhir minggu ke-1
Pada akhir minggu ke-2
Pada akhir 6 minggu
900 gram
450 gram
200 gram
60 gram
12,5 cm
7,5 cm
5,0 cm
2,5 cm
Lembut / lunak
2 cm
1 cm
menyempit
Involusi
Tinggi Fundus Uteri
Bentuk Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari di bawah pusat
Pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba di atas simfisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500 gram
350 gram
50 gram
30 gram

b.      Bekas Implantasi Urin
Placenta bod mengecil karena kontraksi dan menonjol ke kavum uteri dengan diameter 7,5 cm, sudah 2 minggu menjadi 3,5, cm pada minggu ke-6 menjadi: 2,4 cm dan akhirnya pulih.
c.       Luka – luka
d.      Bila tidak ada infeksi atau luka-luka jalan lahir yang berarti, wanita yang baru melahirkan merasa sangat lega.
(Sarwono, 2005:240)
Luka – luka pada jalan lahir bila tidak disertai infeksi akan sembuh dalam 6 – 7 hari
Tahapan penyembuhan luka:
·        Hari ke 0 – 3
-          Bekuan darah terbentuk, diperkuat oleh serat fibrin
-          Terjadi respons peradangan akut, leukosit, polinorf dan makrofag bermigrasi.
Ketempat luka, eksudat berprotein tinggi menyebabkan edena lokal.
·        Satu minggu kemudian
-          Crusta mengering, mengerasdan akhirnya terlepas.
-          Luka berkontraksi.
-          Terjadi aktivitas mitosis di sel epidermis, yang bermigrasi diatas jaringan yang hidup.
-          Terbentuk kapiler darah baru, terbentuk dari tunas andotel yang membawa nutrient ke jaringan yang menyembuh.
-          Jaringan ikat baru yang dibentuk oleh fibroblasi, menunjang perlu ubahan kapiler.
·         Enam bulan kemudian
-          Depresi permukaan mungkin masih tampak di bekas luka jaringan perut menjadi lebih pucat.
-          Epirelisasi tunas.
-          Jaringan ikat mengalami reorganisasi, pembuluh darah berkurang dan jaringan menjadi lebih kuat.
·         Lochea
Ketika placenta dan membrane terlepas dari dinding uterus, uterus mengalirkan lochea yang berisi darah, bagian – bagian desidun, sel darah putih, dan beberapa sumber bakteri.
Perubahan lochea terjadi sebagai berikut :
-       Lochea rubra
Terjadi 3 hari pertama
-       Lochea serosa
Terjadi hari ke – 4
-          Lochea alba
Hari ke – 10
Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Terdiri dari :
-       Lochea rubra (cruenta)
Berisi darah segar dan sisa – sisa selaput ketuban, sel – sel desidun, vernika seosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan.
-       Lochea sangvilvalenta
Berwarna merah kuning berisi darah lendir terjadi pada hari ke – 3 sampai ke – 7 pasca persalinan.
-       Lochea serosa
Berwarna kuning cairan tidak berdarah lagi pada hari ke – 7 sampai hari ke – 14 pasca persalinan.
-       Lochea alba
Berwarna putih, setelah hari ke – 14
-          Lochea purulenta
Terja infeksi, keluar cairan seperti nanah berbau busuk.
-       Lochea statis
Lochea tidak lancar keluarnya
·         Serviks
Setelah persalinan, bentuk serviks akan menyangga seperti corong berwarna merah kehitaman. Konsistensinya lunak, kadang – kadang terdapat perlukaan – perlukaan kecil, setelah bayi lahir tangan masih bisa masuk rongga rahim setelah 2 jam dapat dilalui oleh 2 – 3 jari dan setelah 7 hari hanya dapat dilalui 1 jari.
·         Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
-          Penurunan kadar progesterone secara tepat dengan peningkatan hormone prolaktin setelah persalinan.
-          Kolostruum sudah ada saat persalinan produksi ASI terjadi pada hari ke – 2 atau hari ke – 3 setelah persalinan.
-          Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulanya proses lakbisi.

3.      Perubahan Pada Sistem Muskuloskeleral
Perubahan fisiologis masa  nifas pada sistem muskuloskeleral adalah perubahan – perubahan yang pada umumnya terjadi pada tulang/ otak dalam tubuh ibu masa nifas yang akan pulih kembali ke keadaan normal selama 42 hari atau 6 minggu.
4.      Perubahan pada tanda – tanda vital
a.       Suhu
Suhu badan wanita in partu tidak lebih dari 37,20 C. Sesudah partus dapat naik + 0,50 C dari normal, tetapi tidak melebihi 380 C, sesudah 12 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan akan kembali normal. Bila suhu badan lebih dari 38°C, kemungkinan adanya infeksi. Pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI, buah dada menjadi bengkak, berwarna merah karena banyak ASI.
b.      Nadi
Biasanya sedikit meningkat selama kala II persalinan seiring dengan besarnya tenaga yang dikeluarkan. Nadi berkisar umumnya antara 60 – 80 denyutan per menit segera setelah partus dapat terjadi “branchy curdia”. Bila terdapat “rochy curdia”. Sedangkan badan tidak panas. Kemungkinan ada perdarahan berlebihan pada penderita. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibandingkan suhu badan.
                                                        (Sarwono, 2006: 239 – 240)
c.       Tekanan darah
Perubahan darah normalnya sedikit meningkat selama kala II persalinan akibat usaha mengejan dan dehidrasi pada awal post pertum tekanan darah 140/90 mmHg.
d.      Respirasi
Keadaan pernafasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu dan denyut nadi. Bila suhu dan nadi tidak normal, pernafasan juga akan mengikutinya, kecuali apabila ada gangguan khusus pada saluran pernafasan. Respirasi pada nifas normalnya 16 – 24 x/ menit
E.     Hal – hal Yang Perlu Diperiksa di Masa Nifas
Pemeriksaan akhir kala nifas (post partum)sangat penting karena dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan khusus sebagai berikut :
1.       Melakukan pemeriksaan papsmear untuk mencari kemungkinan kelainan sitoogi sel serviks atau sel endometrium.
2.      Menilai seberapa jauh involusi uterus.
3.       Mempersiapkan untuk mempergunakan metode KB.
Hal – hal yang harus diperiksa pada masa nifas :
1.      Keadaan umum dari ibu nifas.
2.      Keadaan payudara dan putingnya.
3.      Dinding perut.
4.      Keadaan perineum.
5.      Kandung kencing.
6.      Keadaan serviks uterus.
F.     Kunjuangan Masa Nifas
1.      Kunjungan 1               : 6 – 8 jam setelah persalinan.
Tujuan                        :
a.       Cegah perdarahan masa nifas.
b.      Deteksi dan rawat penyebab perdarahan, rujuk jika berlanjut.
c.       Konseling cara cegah perdarahan.
d.      Pemberian ASI acuan.
e.       Lakukan hubungan ibu dan BBL.
f.       Cara cegah hiportemia.
g.      Observasi 2 jam setelah kelahiran jika bidan yang menolong persalinan.
2.      Kunjungan II              : 6 hari setelah persalinan
Tujuan                        :
a.       Pastikan involusi uterus normal.
b.      Nilai tanda – tanda demam, infeksi / perdarahan abnormal.
c.       Pastikan ibu dapat mekanan, cairan dan istirahat.
d.      Pastikan ibu menyusui dengan baik.
e.       Konseling tentang asuhan BBL, tali pusat, jaga bayi tetap hangat, perawatan bayi sehari – hari.
3.      Kunjungan III            : 2 minggu setelah persalinan.
Tujuan                        :
a.       Sama seperti tujuan (kunjungan II, yaitu kunjungan 6 hari setelah persalinan).
4.      Kunjungan IV            : 6 minggu setelah persalinan.
Tujuan                        :
a.       Tanyakan pada ibu tentang penyulit yang dialami atau bayi alami.
b.      Beri konseling KB secara alami.

BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS NORMAL
PADA NY.K UMUR 30th P1 A0 2 JAM POST PARTUM
DI BPM SRI HARYANTI
SUKOHARJO
Tempat           :BPM Sri Haryati                                
Bidan                                                                                   : Sri Haryanti
Tgl/Jam Masuk: 15 Mei 2013/09.00 WIB
DX Masuk       : Ny.K P1 A0 Umur 30th Dengan Nifas Normal 2 jam post partum
A.    PENGKAJIAN
Hari/Tgl : Rabu, 15 Mei 2013       Jam : 09.02 WIB
1.      Data Subjektif
a.       Biodata
Nama Klien     : Ny. K                  Nama Suami    : Tn. A
Umur               : 30 tahun              Umur               : 31 tahun
Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia   Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia
Agama             : Islam                   Agama             : Islam
Pendidikan      : -                           Pendidikan      : -
Pekerjaan         : IRT                      Pekerjaan         : Swasta
Alamat            : Mertan 1/7 Bendosari Sukoharjo
b.      Alasan Masuk
Ibu mengatakan telah melahirkan bayinya tanggal 15 Mei 2013 jam 05.00 dan masih merasa mules pada perutnya dan nyeri pada jahitan jalan lahir.
c.       Data Kebidanan
·         Riwayat kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu
-          Para           : 1,  A  : 0, Hidup : 1
-          Usia Kehamilan     : 38  minggu
-          Kelainan selama hamil: tidak ada
-          Tanggal persalinan            : 15 Mei 2013 Jam : 08.45 WIB
-          Jenis persalinan     : normal
-          Lama persalinan    : Kala I                        =  7 jam
Kala II             = 15 menit
Kala III           = 10 menit
Kala IV           = 2 jam
-          Perdarahan                        : Kala I                        : - cc
Kala II             : 75 cc
Kala III           : 100 cc
Kala IV           : 50 cc 
Jumlah             : 225 cc
-          Penyulit dalam persalinan             : tidak ada
-          Penolong               : Bidan
-          Kelainan bawaan   : tidak ada
-          Anak                     : hidup. Tunggal
BB                         : 3,4 Kg
PB                         : 51 cm
·         Riwayat kehamilan dan persalinan sekarang
-          HPHT     : 19 Agustus 2012
HPL       : 15 Mei 2013
Masa gestasi                       :  38mg
Kelainan selama hamil        : Tidak ada
-          Tanggal persalinan              : 15 Mei 2013
Jenis Persalinan                  : Spontan
Lama Persalinan                 : 14 jam 30 menit
Perdarahan                         : Tidak ada
Penyulit dalam persalinan: Tidak ada
Penolong                            : Bidan
-          Keadaan Anak
Anak                                   : Hidup
Jenis Kelamin                     : Laki – laki
Apgar Score                       :
APGAR SCORE
1 menit
5 menit
10 menit
Denyut jantung
Pernafasan
Tonus
Peka rangsangan
Warna
1
1
2
2
1
1
2
2
2
2
2
2
2
2
2
Total
7
9
10
BB dan PB                         : 3400 gr dan 51 cm
Keadaan tali pusat              : Baik, basah, dan tidak ada tanda infeksi
Kelainan Kongenital          : Tidak ada
Minum ASI                        : Sudah (segera setelah bayi lahir)
-          Rawat Gabung                   : Ya
Alasan                                : Karena ibu ingin memberikan bayinya ASI Eksklusif.
-          Data Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Dalam Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular, menahun maupun menurun seperti Hepatitis, TBC, Hipertensi, Ashma, DM dan Jantung.
b.      Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, menahun maupun menurun seperti penyakit Hepatitis, TBC, Hipertensi, Ashma, DM, dan Jantung.
c.       Riwayat operasi
Ibu mengatakan belum pernah mengalami operasi.
d.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan telah melahirkan bayi laki – laki tanggal 15 Mei 2013 jam 06.30 WIB dan merasakan perutnya mules dan nyeri pada jahitan jalan lahirnya.
-          Data Kebiasaan Sehari – hari (Post Partum)
a.       Nutrisi
Variasi makanan           : Selang – Seling
Kwalitas                       : Baik
Porsi                             : 1 Porsi
Makanan Pantang dan keluhan : Tidak ada
b.      Eliminasi
·         BAB             : Belum
Keluhan        : Tidak ada
·         BAK             : Sudah
Keluhan        : Tidak ada
Frekuensi      : 5x/ sehari
Jumlah           : + 250 cc
Warna           : Merah
c.       Istirahat
Tidur                    : 7 - 8 jam / hari
Keluhan               : Tidak ada
d.      Personal Higiene
Mandi                  : Sibin
Keramas               : Belum
Sikat gigi             : Belum
Ganti pakaian      : 1 x/ hari
Keluhan               : Tidak ada
-          Data Psikologi / Spiritual
a.       Psikologi
·         Tanggapan ibu terhadap kelahiran bayinya.
Ibu mengatakan sangat senang dengan kelahiran anak pertamanya.
·         Tanggapan suami / keluarga atas kelahiran bayinya
Suami dan keluarganya mengatakan sangat senang dengan kelahiran bayi tersebut.
·         Dukungan yang diberikan suami / keluarga.
Suami dan keluarga selalu memberikan dukungan moril, materiil dan spiritual kepada ibu.
·         Pengetahuan ibu tentang ASI.
Ibu mengatakan belum paham tentang ASI.
·         Pengetahuan ibu tentang senam nifas.
Ibu mengatakan belum tahu tentang senam nifas.
·         Rencana mengasuh / merawat bayi.
Ibu mengatakan ingin merawat bayinya sendiri.
b.      Sosial
·         Hubungan antar manusia
Ibu mengatakan hubungan dengan masyarakat sangat baik, tidak ada masalah.
·         Kegiatan sosial
Ibu mengatakan sesekali mengikuti kegiatan dilingkungan rumah dan tempat kerja.
·         Rekreasi
Ibu mengatakan sesekali mengadakan rekreasi dengan keluarganya jika ada waktu luang.
c.       Spiritual
·         Kegiatan agama
Ibu mengatakan selalu menjalankan sholat 5 waktu.
d.      Kontrasepsi
·         Kontrasepsi yang pernah digunakan.
Ibu mengatakan belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.
·         Rencana ber – KB
Ibu mengatakan ada rencana ber – KB. Segera setelah keadaan pulih dan mendapat penjelasan bidan.
Alat digunakan belum tahu.
·         Tanggapan suami
Suami mengatakan mengikuti keputusan ibu.
·         Jumlah anak yang diinginkan
Ibu mengatakan menginginkan 2 anak. 1 putra dan 1 putri.
e.       Budaya
·         Kebiasaan / adat yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas, BBL.
Ibu mengatakan tidak ada kegiatan / kebiasaan yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas dan BBL.
2.      Data Objektif
a.       Pemeriksaan Fisik
·         Keadaan umum        : Baik       Kesadaran              : Compos Mentis
·         Keadaan Vital / tanda Vital :
-          TD                   : 120/90 mmHg
-          Nadi                : 80 x / menit
-          Suhu                : 36,80 C
-          Pernafasan       : 23 x / menit
b.      Kepala dan Leher
·         Wajah                       : Tidak oedema
·         Mata                         :
-          Conjungtiva       : Tidak anemis
-          Sclera                 : Tidak ikterik
·         Hidung                     : Tidak Polyp, Perdarahan          : Tidak ada
·         Telinga
-          Simetris              : Simetris
-          OMP / OMA      : Tidak ada pembesaran
·         Gusi                         : Warna merah, Oedema tidak ada
·         Gigi                          : Karang gigi tidak ada / Caries : Tidak ada
·         Bibir                         : Warna merah muda, Bentuk : Simetris
Lesi                          : Tidak ada         Kelembaban    : Normal
Pembengkakan         : Tidak ada
·         Leher                        :
-          Kelanjar Thyroid   : Tidak ada pembengkakan
-          Kelanjar Limfe   : Tidak ada pembengkakan
c.       Payudara
·         Bentuk dan ukuran         : Simetris
·           Keadaan putting            : Menonjol
·           Hiperpigmentasi             : Ada
·           Pengeluaran                   : Ada                       Jenis : Colostrum
·           Benjolan                         : Tidak ada
·           KGB Axila                    : Tidak ada pembesaran
d.      Abdomen
·         Luka bekas operasi         : Tidak ada
·         TFU                                : 3 Jari dibawah pusat
·         Kontraksi                        : Baik
·         Konsistensi                     : Sedang
e.       Tangan dan kaki
·         Oedem                           :                 
                                                     
·         Kuku jari                         : Tidak pucat
·         Varises                            : Tidak ada
·         Reflek patella                  : + / +
f.       Genetika Eksterna Vagina
·         Varises                            : Tidak ada
·         Infeksi                             : Tidak ada
·         Cairan                             : Ada
·         Oedema                          : Tidak ada
Kelenjar bartinolini
·         Oedema                          : Tidak ada
·         Massa                              : Tidak ada
·         Cairan                             : Tidak ada
g.      Pengeluaran Pervaginam
·         Darah                              : Ada
·         Warna Lochea                 : Merah        Jenis : rubra
·         Banyaknya                      : + 50 cc
·         Baunya                            : Khas (anyir)
h.      Perineum dan Anus
·         Luka Episiotomi             : Ada
Jahitan                             : Ada
Jenis                                : Jelujur
Berapa Jahitan                : Luar           : 4 Jahitan
·         Keadaan luka                  : Baik
·         Tanda rahang                  : Tidak ada
·         Anus                               : Tidak hemoroid
i.        Pemeriksaan Laboratorium
Tidak dilakukan
3.      Pengobatan
a.       Obat – obat yang diberikan
·      Laktafit                                            3 x 1
·      Amoxicillin                      500 mg      3 x 1
·      Asam Mefenamat            500 mg      3 x 1
·      Inbion                                                1 x 1
B.     INTERPRETASI DATA                        
15 Mei 2013/ 09.15 WIB
Dx Kebidanan        : Ny. K P1 AO usia 30 tahun dengan nifas normal 2 jam post partum.
Subjektif                 :
1.      Ibu mengatakan telah melahirkan bayi laki - laki tanggal 15 Mei 2013 jam 05.00 WIB.
2.      Ibu mengatakan perutnya terasa mules dan nyeri jahitan pada jalan lahir.
Objektif                  :
1.      KU                    : Baik Kesadaran : Composmentis
2.      Vital sign          : TD : 120/70 mmHg             S : 36,50 C
                          N   : 80x / menit                     R : 22x/ menit
3.      Telah melahirkan bayi laki – laki,  BB : 3400 gr,  PB : 51 cm
4.      ASI                   : Sudah keluar,    Jenis           : colostrum
5.      TFU                  : 3 jari dibawah pusat
Kontraksi          : Baik
Konsistensi       : Sedang
6.      Jahitan Perinium : Baik., Infeksi : Tidak ada
Masalah          : Perut mules dan nyeri jahitan pada jalan lahirnya.
DS                  : Ibu mengatakan merasakan mules pada perutnya dan nyeri pada jalan lahirnya.
DO                  : TFU                 : 3 jari dibawah pusat
                                      Kontraksi        : Baik
Konsistensi      : Sedang
Terdapat luka jahitan pada jalan lahirnya : Luar : 4 Jahitan
C.    DIAGNOSA POTENSIAL
Tidak ada
D.    TINDAKAN SEGERA
Tidak ada
E.     RENCANA TINDAKAN
15    Mei 2013/09.30 WIB
1.      Observasi KU, VS, Kontraksi dan PPV
2.      Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan makan- makanan bergizi
3.      Ajarkan ibu dan keluarga masase abdomen
4.      Jelaskan pada ibu bahwa mules yang dialami adalah hal yang wajar
5.      Beri KIE tentang pentingnya ASI eksklusif
6.      Beri KIE tentang merawat luka jahitan
7.      Lanjut terapi oral
F.     PELAKSANAAN TINDAKAN
15    Mei 2013/09.45 WIB
1.      Mengobservasi KU, VS, Kontraksi dan PPV
2.      Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan  makan – makanan bergizi seperti sayur dan buah
3.      Mengajarkan ibu dan keluarga masase abdomen, yaitu dengan memijat perut bagian bawah searah jarum jam
4.      Menjelaskan pada ibu bahwa mules yang dialami adalah hal yang wajar karena pengembalian uterus kebentuk semula
5.      Memberikan KIE tentang pentingnya ASI eksklusif yaitu pemberian ASI (air susu ibu) sedini mungkin setelah persalinan, diberikan tanpa jadwal dan tidak diberi makanan lain, walaupun hanya air putih, sampai bayi berumur 6 bulan.
6.      Memberikan KIE tentang merawat luka jahitan
a.       Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang
b.      Washlap dibasahi dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan washlap yang sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi luka jahitan. Jangan takut dengan rasa nyeri, bila tidak dibersihkan dengan benar maka darah kotor akan menempel pada luka jahittan dan menjadi tempat kuman berkembang biak.
c.       Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin bahwa luka benar – benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin kecil.
d.      Setelah luka bersih boleh berendam dalam air hangat dengan menggunakan tempat rendam khusus. Atau bila tidak bisa melakukan perendaman dengan air hangat cukup di siram dengan air hangat.
e.       Kenakan pembalut baru yang bersih dan nyaman dan celana dalam yang bersih dari bahan katun. Jangan mengenakan celana dalam yang bisa menimbulkan reaksi alergi.
f.       Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh, semakin bersih luka jahitan maka akan semakin cepat sembuh dan kering.
g.      Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka jahitan cepat sembuh. Makanan berprotein ini bisa diperoleh dari telur, ikan, ayam dan daging, tahu, tempe. Jangan pantang makanan, ibu boleh makan semua makanan kecuali  bila ada riwayat alergi.
h.      Luka tidak perlu dikompres obat antiseptik cair tanpa seizin dokter atau bidan.
7.      Memberi terapi oral
a.       Laktafit                                   : 3 x 1
b.      Amoxcilin                  500 mg  : 3 x 1
c.       Asam Mefenamat      500mg   : 3 x 1
d.      Inbion                                      : 1 x 1
G.    EVALUASI                                                
15 Mei 2013/10.00 WIB
1.        KU         : Baik                                      Kesadaran    : Composmentis
2.        VS          : T        : 120/85 mmHg          Rr                 : 20x / menit
                            : N       : 85x / menit               S                   : 36,20 C
3.      TFU         : 3 jari dibawah pusat
Kontraksi : Baik
Konsistensi          : Kuat
4.      PPV         : + 55 cc                                  Jenis              : Lochea rubra
5.      Asi           : Sudah                                   Jenis              : Colustrum
6.      Ibu dan keluarga mengatakan mengerti bagaimana cara masase.
7.      Ibu mengatakan sudah faham tentang wajarnya rasa mules yang dialaminya.
8.      Ibu mengatakan sudah mengerti tentang pentingnya ASI ekslusif.
9.      Ibu mengatakan sudah mengerti bagaimana cara merawat luka jahitan.
10.  Ibu mengatakan bersedia meminum obat.