KATA
PENGANTAR
Puji
syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas izinnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “MASALAH YANG DIHADAPI OLEH
IBU NIFAS DAN CARA MENGATASINYA”. Dalam penulisan makalah ini penulis banyak
mendapat bantuan dari berbagai pihak,oleh karena itu penulis ingin mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan
makalah ini.
Makalah
ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya penulis hanya bisa berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak,terutama teman-teman kelas.
DAFTAR ISI
Kata
Pengantar ............................................................................................ 1
Daftar Isi...................................................................................................... 2
Bab I
Pendahuluan................................................................................................. 3
Bab II
Pembahasan ................................................................................................. 4
- Pengertian ........................................................................................ 4
B.
Jenis-jenis
Infeksi.............................................................................
4
C.
Masalah lain yang biasa dihadapi
pada masa nifas.......................... 8
D.
Pencegahan
infeksi
nifas...................................................................
10
Bab III
Penutup........................................................................................................
12
Daftar Pustaka............................................................................................. 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Masa nifas
(puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan yaitu setelah
kelahiran plasenta selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti
pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu. Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah
persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum
dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari. Infeksi
nifas pada awalnya adalah penyebab kematian maternal yang paling banyak,namun
dengan kemajuan ilmu kebidanan terutama pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi
nifas, pencegahan dan penemuan obat-obat baru dari itulah dapat diminimalisir
terjdinya infeksi nifas.
Dari itulah
seorang bidan perlu mengetahui tentang infeksi nifas, mulai dari apa itu
infeksi nifas,bagaimana penyebab terjadinya infeksinya,pencegahanya dan
pegobatan dari infeksi nifas tersebut. Hal ini ditujukan untuk terwujugnya
persalinan yang aman asuhan nifas yang higienis sehingga komplikasi pada masa
nifas tidak lagi terjadi.
Tujuan Umum
·
Untuk memenuhi tugas asuhan
kebidanan pada ibu nifas.
·
Untuk mengetahui masalah-masalah
yang dihadapi dalam masa nifas dan bagaimana cara mengatasi masalahnya.
Tujuan Khusus
·
Untuk mengetahui tentang asuhan
kebidanan pada ibu nifas,
·
Untuk mengetahui dan memperdalam
pengetahuan tentang asuhan kebidanan
pada ibu nifas,
·
Untuk mengetahui tentang
masalah-masalah yang dihadapi dalam masa nifas dan bagaimana cara mengatasi
masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
Nifas atau
puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali
kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu
(Fairer, Helen, 2001:225).
Infeksi
nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah persalinan.
Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur
peroral sedikitnya empat kali sehari. Masa Nifas
(puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat – alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira - kira 6
minggu.Setelah persalinan,terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin
meningkatkan pembentikan urine untuk mengurangi hemodilusi darah,terjadi
beberapa penyerapan bahan tertentu melalui pembuluh darah venasehingga
mengalami peningkatan suhu badan sekitar 0,5¬¬C yang bukan merupakan keadaan
patologis menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan
tempat masuknya kuman ke dalam tubuh,sehingga menimbulkan infeksi pada kala
nifas.
Infeksi kala
nifas adalah infeksi-perdangan pada semua alat genetalia pada masa nifas oleh
sebab apapun dengan kententuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 C tanpa
menghitung hari pertama dan berturut-turut selama 2 hari. Masuknya kuman-kuman
dapat terjadi dalam kehamilan,waktu persalinan dan nifas. Hal ini dapat
mengakibatkan demam nifas yaitu demam dalam nifas.
B. JENIS-JENIS
INFEKSI
1. Infeksi pada
perineum, vulva, vagina dan serviks
Gejalanya
berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi dan kadang-kadang perih bila
kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu
sekitar 38°C dan nadi di bawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup
oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39 –
40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil.
2. Endometritis
Jenis
infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman memasuki
endometrium, biasanya pada luka bekas insersio plasenta, dan dalam waktu
singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang
tidak seberapa patogen radang terbatas pada endometritium.
Gambaran
klinik tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, dan derajat
trauma pada jalan lahir. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat
naik turun (remittens). His royan dan lebih nyeri dari biasa dan lebih lama
dirasakan. Lochia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat dan berbau.
Lochia berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering ada
sub involusi. Leucocyt naik antara 15000-30000/mm³.
Kadang-kadang
lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini
dinamakan lokiametra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada
endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek. Pada
endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut
pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat,
akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih
satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya
bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya
berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan
tidak berbau.
Sakit
kepala, kurang tidur dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Kalau
infeksi tidak meluas maka suhu turun dengan berangsur-angsur dan turun pada
hari ke 7-10. Pasien sedapatnya diisolasi, tapi bayi boleh terus menyusu pada
ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lochia, pasien boleh diletakkan dalam letak
fowler dan diberi juga uterustonika. Pasien disuruh minum banyak
3. Septicemia
dan piemia
Kedua-duanya
merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari
piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai
tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil.
Selanjutnya, suhu berkisar antara 39 – 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi
menjadi cepat (140 – 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam
sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi
seperti piemia.
Pada piemia,
penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak
meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta
menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah
umum. Suatu ciri khusus pada piemia ialah berulang-ulang suhu meningkat dengan
cepat disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada
saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul
gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula
menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain.
4. Parametritis
Parametritis
adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi beberapa jalan penyebaran
melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis.Penyebaran
langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai ke dasar ligamentum.Penyebaran
sekunder dari tromboflebitis. Proses ini dapat tinggal terbatas pada dasar
ligamentum latum atau menyebar ekstraperitoneal ke semua jurusan. Jika menjalar
ke atas, dapat diraba pada dinding perut sebelah lateral di atas ligamentum
inguinalis, atau pada fossa iliaka.
Parametritis
ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap
lebih dari seminggu disertai rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada
pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan parametritis.
Pada
perkembangan proses peradangan lebih lanjut gejala-gejala parametritis menjadi
lebih jelas.Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di
sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul,
dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu
bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap
menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi
cepat, dan perut nyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi pembentukan
abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil
sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika terjadi
abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari
jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung
kencing.
5. Peritonitis
Peritonitis
dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus, parametritis yang
meluas ke peritoneum, salpingo-ooforitis meluas ke peritoneum atau langsung
sewaktu tindakan perabdominal. Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya
endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan
salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa
abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan
menyebabkan peritonitis.
Peritonitis,
yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis.
Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita
demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Pada
pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya
terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior
untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing.
Peritonitis
umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat.
Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri,
ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi
pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies
hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi. Peritonitis yang terlokalisir
hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh
rongga peritoneum disebut peritonitis umum, dan ini sangat berbahaya yang
menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian akibat infeksi.
6. Salpingitis
dan ooforitis
Gejala
salpingitis dan ooforitis tidak dapat di pisahkan dari pelvio peritonitis.
v
Masalah lain
yang biasa timbul pada masa nifas, antara lain :
1.
Masalah nyeri sebagian wanita
mengalami rasa nyeri meskipun persalinan normal 8-go jam post partum: nyeri
pada shyimphisis 3-4 hari pertama, nyeri perineum, dysuria, nyeri leher atau
punggung dengan ibu mendapat anastesi general bedrest dan pemberian analgesik.
2.
AFTERPAIN (CU)
Penyebab :
obat-obatan yang diberikan untuk menghentikan perdarahan dan pemberian ASI.
Cara
mengatasi :
a)
BAK secara teratur,
b)
berbaring tengkurap,
c)
mobilisasi,
d)
pemberian paracetamol atau
acetamenophen kira-kira 1 jam sebelum pemberian ASI.
3. NYERI
PERINEUM
Ibu nifas mengalami nyeri tidak
lebih dari 8 minggu.
Penyebab : trauma persalinan dan
penjahitan robekan perineum.
Cara
mengatasi :
a)
meletakkan potongan es diatas
genetalia,
b)
duduk
didalam air hangat atau air dingin,
c)
lakukan
kegel exercise.
4.
HEMOROID
Penyebab :
wanita yang cenderung mengalami konstipasi, penanganan pembuluh darah pada
bagian anus dan rektum pada saat meneran.
Cara
mengatasi:
a)
duduk diatas air hangat atau dingin,
b)
hindari duduk terlalu lama,
c)
banyak minum dan banyak makan
makanan berserat,
d)
pemberian analgesik.
5. NYERI PADA
PAYUDARA
3 hal yang dilakukan pada upaya
pencegahan :
a)
pemberian ASI sedini mungkin,
b)
pemberian Asi setiap 2-3 jam dan
jangan memberikan bayi minum air atau suplemen lain,
c)
gunakan kedua payudara secara
bergantian ketika menyusui.
Cara mengurangi masalah:
a)
kompres air hangat pada payudara,
b)
jika puting
bengkak, perah secara manual,
c)
Gunakan penompang yang baik,
d)
beri paracetamol untuk penghilang
nyeri,
e)
perawatan payudara
6.
Puting Susu
Cara
mengatasi :
a) tekhnik
menyusui yang benar,
b) gunakan kantong sebelum menyusui.
7. Masalah nyeri
( Sepsis Puerperalis )
Cara
mencegah :
a)
RS mempertahankan fasilitas dan
peralatan yang baik,
b)
perawat melakukan tekhnik aseptik dan
c)
ibu belajar perawatan diri yamg baik.
Upaya
berkelanjutan membutuhkan partisipasi semua personil RS.Sumber infeksi terbesar
: tangan, hidung, dan mulut
8. Masalah
Cemas
a)
Tingkat estrogen dan progesteron
turun,
b)
keletihan saat bersalin,
c)
mengalami nyeri perineum, pembekakan
payudara dan afterpain,
d)
post partum blues.
9.
Perawatan Perineum
a)
Penghangatan dan berendam
b)
Tujuan: mengurangi ketidaknyamanan,
kebersihan, mencegah infeksi, mempercepat penyembuhan.
PRINSIP UNIVERSAL :
a)
mencegah kontaminasi dari rektum,
b)
menangani dengan lembut pada
jaringan yang terkena trauma,
c)
membersihkan semua keluaran yang
menjadi sumber bakteri dan bau.
4.
PENCEGAHAN INFEKSI NIFAS
A.
MASA KEHAMILAN
1.
Mengurangi atau mencegah
faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta
mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.
2.
Pemeriksaan dalam jangan dilakukan
kalau tidak ada indikasi yang perlu.
3. Koitus pada
hamil tua hendaknya dihindari atau dikurangi dan dilakukan hati-hati karena
dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk
dalam jalan lahir.
B.
SELAMA PERSALINAN
Usaha-usaha pencegahan terdiri atas membatasi sebanyak
mungkin masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir :
1.
Hindari partus terlalu lama dan
ketuban pecah lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut.
2. Menyelesaikan
persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
3. Perlukaan-perlukaan
jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun perabdominam dibersihkan,
dijahit sebaik-baiknya dan menjaga sterilitas.
4. Mencegah
terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera
diganti dengan tranfusi darah.
5. Semua
petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker, yang
menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin. Dan alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan
harus suci hama.
6. Hindari
pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi
yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
C. SELAMA
NIFAS
1.
Luka-luka dirawat dengan baik jangan
sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang
berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
2.
Penderita dengan infeksi nifas
sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
3.
Pengunjung-pengunjung dari luar
hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Masa Nifas
(puerperium) dimulai setelah kelahiran placenta dan berakhir ketika alat – alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil dan berlangsung kira - kira 6
minggu.
Infeksi
nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah persalinan.
Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur
peroral sedikitnya empat kali sehari. Istilah infeksi nifas mencakup semua
peradangan yangdisebabkan oleh mesuknya kuman-kuman kedalam alat genetalia pada
waktu persalinan dan nifas. Infeksi nifas pada awalnya adalah penyebab kematian
maternal yang paling banyak,namun dengan kemajuan ilmu kebidanan terutama
pengetahuan tentang sebab-sebab infeksi nifas, pencegahan dan penemuan
obat-obat baru dari itulah dapat diminimalisir terjdinya infeksi nifas.
Infeksi pada
masa nifas diantaranya adalah endometritis, parametritis, peritonitis, Infeksi
pada perineum, vulva, vagina dan serviks, Salpingitis dan ooforitis, Septicemia
dan piemia. Cara mengatasi masalahnya adalah
jika Masa Kehamilan mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi
seperti anemia, malnutrisi dan kehamilan serta mengobati penyakit-penyakit yang
diderita ibu selama persalinana. Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah
lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut, Selama nifas Luka-luka
dirawat dengan baik jangan sampai terkena infeksi, begitu pula alat-alat dan
pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
DAFTAR PUSTAKA
http://lipsoil.blogspot.co.id/2012/09/permasalahan-pada-masa-nifas.html
Suhermi.
2009. Perawatan Masa Nifas.
Yogyakarta : Fitramaya
Suheimi.
2006. Dasar-dasar Ilmu Kebidanan.
Padang : Andalas University Press
Manuaba.
2007. Pengantar Kuliah Obsterri. Jakarta : EGC
Pinem,
saroha. 2009. Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta : Trans Info Media
Jones,
Llewellyn. 2002. Dasar-dasar Obstetri dan Ginekologi. Jakarta :
Hipokrat
Pusdiknakes.
2003. Asuhan Post Partum.
Saifudin.
2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Maternal dan Neonatal. Jakarta : YBPSP.
Wiknjosastro,
Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan.
Jakarta : YBPSP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar