BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
Bayi baru
lahir yaitu
kondisi dimana bayi baru
lahir (neonatus), lahir melalui jalan lahir dengan
presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara
spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram.Neonatus (BBL) adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai
dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan
didalam rahim menjadi diluar rahim.Pada masa ini terjadi pematangan organ
hampir pada semua system.
Neonatus
(BBL) bukanlah miniature orang
dewasa,bahkan bukan pula miniature anak.Neonatus
mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba
tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.Masa
perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama.Transisi ini
hampir meliputi semua system organ tapi yang terpenting bagi anastesi adalah
system pernafasan sirkulasi,ginjal dan hepar.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Materi
Penyuluhan kepada keluarga Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan
2.
Gangguan
kesehatan ( ISPA, Diare, Penyakit kulit ) yang terjadi pada Bayi usia 1 bulan
sampai 11 bulan
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui apa saja materi yang harus disampaikan pada keluarga Bayi usia 1
bulan sampai 11 bulan
2.
Untuk
mengetahui penyakit yang sering timbul pada Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Materi Penyuluhan Bayi Usia 1 bulan – 11 bulan
1.
Nutrisi
Gizi atau disebut juga nutrisi,
merupakan ilmu yang mempelajari perihal makanan serta hubungan dengan
kesehatan. Ilmu pengetahuan tentang gizi (nutrisi) membahas sifat-sifat
nutrient ( zat-zat gizi) yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya
serta akibat yang ditimbulkan bila terdapat kekurangan (ketidakcukupan) zat
gizi.
Nutrisi adalah
keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk menerima bahan – bahan
dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan – bahan (tersebut agar
menghasilkan berbagai aktivitas dalam tubuhnya sendiri Mary,2000).
Fungsi :
a.
Memelihara
kesehatan dan memulihkan dari sakit.
b.
Pertumbuhan
dan perkembangan jasmani serta psikomotor.
c.
Mengembangkan
kemampuan bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai rasa dan tekstur
d.
Mengembangkan
kemampuan bayi untuk menguyah dan menelan
1. Komponen
Zat Gizi Yang Dibutuhkan oleh Bayi
Zat
gizi merupakan unsur yang penting dalam nutrisi, yang dapat memberikan fungsi
tersendiri, kebutuhan nutrisi tidak dapat berfungsi secara optimal, kalau tidak
mengandung beberapa zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Beberapa
zat gizi yang dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan makro dan
mikro. Untuk zat gizi makro terdiri dari kalori dan air, untuk kalori berasal
dari karbohidrat, protein, lemak, dan air, sedangkkan kelompok zat gizi mikro
terdiri dari vitamin dan mineral.
a. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan
mudah di setiap makanan, karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup.
Dapat diperoleh dari beras, roti, macaroni, kentang, tepung beras, tepung
maizena, tepung kacang hijau, terigu, jagung, singkong, ubi.
Diperlukan untuk menunjang aktivitas anak seperti: bergerak,
berlari, bermain dll.
b. Protein
Protein adalah zat gizi dasar yang berguna dalam pembentukan
protoplasma sel ( sebagai zat pembangun). Terdiri dari: daging, ikan, susu,
ati, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Diperlukan untuk pembentukan
berbagai jaringan tubuh baru seperti dll.
c. Lemak
Lemak merupakan sumber yang kaya akan energi dan juga
sebagai pelindung organ tubuh, seperti pembuluh darah, saraf, organ dan
lain-lain dan juga dapat membantu dalam pengaturan suhu tubuh. Lemak berperan
dalam pengangkutan vitamin A,D,E, dan K. lemak dapat diperoleh dari daging,
minyak, margarine dan mentega.
d. Vitamin
Vitamin berguna dalam mengatur
pertumbuhan dan dapat mencegah berbagai penyakit. Kekurangan vitamin disebut
avitaminosis. Terdapat beberapa jenis vitamin yaitu :
-
vitamin
A ( sayuran yang berwarna hijau, buah-buahan yang berwarna kunning jingga,
seperti bayam, kangkung, pepaya, buncis, wortel, mangga, jeruk, pisang ,dll
- vitamin B, B1 ( Thiamin): Ikan,
daging ayam, kacang-kacangan dan susu.
- B2 (Riboflavin) larut dalam air :
Telur, sayuran hijau, daging tak berlemak, susu, bijian lengkap.
- B6 (piridoksin) : Biji-Bijian,
sayuran, daging , pisang
- B12 (sianokobalamin) : Hati dan
ginjal, susu, daging.
- vitamin C (asam askorbat) : Buah,
jus jeruk
- vitamin D : Minyak hati ikan, susu,
kuning, telur
- vitamin E (alfa tokoferol) : Sayuran
daun hijau
- vitamin K : Hati, telur, saluran
daun hijau
e. Mineral
Mineral dibutuhkan dalam jumlah
sedikit,tetapi sangat penting. Mineral dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
-
Mineral
makro adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah banyak > 100 mg/hari. Yang
termasuk mineral makro adalah natrium, klor, fosfor, kalsiuum, magnesium, dan
sulfur.
-
Mineral
mikro adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit < 100mg/hari, yang
termasuk mineral mikro adlah mangan, fluor, yodium, kobalt, besi dan tembaga
2.
Bahan Makanan Yang Dianjurkan
- Sumber KarboHidrat : mulai dari
tepung beras, tepung maezena, kentang, tepung hunkwe sampai ke beras, menjelang
1 tahun dapat diberikan macaroni, jagung manis.
- Sumber protein: keju, kuning telur,
ayam/unggas, daging sapi, kerbau, hati ayam, ikan yang mengandung omega 3
(salmon, tuna, kembung, dll), tempe, thu, kajang hijau.
- Sayuran: wortel, bayam, kangkung,
labu kuning, brokoli, daun katuk, tomat merah, kembang kol, dll.
- Buah: pisang, advokad, mangga,
papaya, semangka, melon, belimbing, dll.
- Yougurt tawar
- Minyak (minyak kelapa, mentega
tawar).
3.
Kebersihan Makanan Untuk Bayi
Kebersihan makanan pendamping ASI
perlu mendapatkan perhatian khusus. Makanan pendamping ASI yang kurang bersih
dan sudah tercemar dapat menyebabkan diare atau cacingan pada bayi.Yang perlu
diperhatikan dalam memberikan makanan pendamping pada bayi usia 6-7 bulan
adalah sbb:
- Teruskan pemberian ASI
- Berikan makanan lumat (seperti
pisang dan papaya) 2x sehari
- Berikan ASI dulu baru makanan
pendamping.
4.
MATERI PEMBERIAN IMUNISASI
Imunisasi merupakan usaha memberikan
kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat
zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud
vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang
dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan
melalui mulut seperti vaksin polio.
a. Tujuan Imunisasi
Pemberian imunisasi pada anak yang
mempunyai tujuan meningkatkan derajat imunitas, memberikan proteksi imun dengan
menginduksi respons memori terhadap patogen tertentu / toksin dengan
menggunakan preparat antigen non-virulen/non-toksik. Kekebalan tubuh juga dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya terdapat tingginya kadar antibodi
pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikkan, waktu antara
pemberian imunisasi, mengingat efektif dan tidaknya imunisasi tersebut
akan tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh dapat
diharapkan pada diri anak.
b. Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan
Imunisasi
Hingga saat ini terdapat sepuluh
jenis vaksinasi yang dapat mencegah terjadinya infeksi pada anak, yaitu :
a. Polio
b. Campak
c. Gondongan
d. Rubella
(campak Jerman)
e. Difteria
f. Tetanus
g. Batuk rejan
(Pertusis)
h. Meningitis
i. Cacar
air
j.
Hepatitis B
C. Jenis Imunisasi
a. Imunisasi Aktif
Merupakan pemberian zat sebagai
antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh
mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan respons seluler dan
humoral serta dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi
infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat
empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya antara lain :
1)
Antigen
merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna
terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa poli sakarisa, toksoid atau
virus dilemahkan atau bakteri dimatikan
2)
Pelarut
dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan.
3)
Preservatif,
stabilizer, dan antibiotika yang berguna untuk menghindari tumbuhnya mikroba
dan sekaligus untuk stabilisasi antigen.
4)
Adjuvan
yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan
imunogenitas antigen.
c. Imunisasi Pasif
Merupakan pemberian zat (immunoglobulin) yaitu suatu zat
yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma
manusia atau binatang yang digunakan untuk mngatasi mikroba yang diduga sudah
masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Dalam pemberian imunisasi pada anak dapat dilakukan dengan
beberapa imunisasi yang dianjurkan antara lain :
1.
BCG
(Bacillus Calmette-Guerin)
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang
primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG,
pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak,
TBC Milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang. Imunisasi BCG ini
merupakan vaksin yang mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah satu kali dan waktu pemberian
imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan (umumnya 2 bulan), akan tetapi pada umumnya
diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan, kemudian cara pemberian imuniasi BCG
melalui intradermal. Efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada
daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional dan reaksi
panas.
2.
Imunisasi
DPT ( Diphteri, Pertusis, dan Tetanus )
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit difteri.Imunisasi DPT ini merupakan
vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat
racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat antibody (toksoid).
Frekwensi pemberian imunisasi DPT adalah 3 kali,dengan maksud pemberian
pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap
vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti,kedua dan ketiga
terbentuk zat anti yang cukup. Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur
2 – 11 bulan dengan interval 4 minggu. Cara pemberian imunisasi DPT
melalui intramuskuler. Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan
efek berat,efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat
penyuntikan,demam sedangkan efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang
lebih empat jam,kesadaran menurun,terjadi kejang, enselopati, dan shock.
3.
Imunisai
Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan pada anak.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.
Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah empat kali.Waktu pemberian imunisasi
polio pada umur 0-11 bulan dengan interval pemberian 4 minggu. Cara pemberian
imunisasi polio melalui oral.
4.
Imunisasi
Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat
menular.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.Frekuensi
pemberian imunisasi campak adalah satu kali.Waktu pemberian imunisasi
campak melalui subkutan kemudian efek sampingnya adalah dapat terjadi ruam pada
tempa suntikan dan panas.
5.
Imunisasi
Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg
dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis tiga kali. Waktu
pemberian imunisasi hepatitis B pada umur 0 – 11 bulan. Cara pemberian
imunisasi hepatitis ini adalah intramukular.
6.
Imunisasi
MMR ( Measles, Mumps, dan Rubela )
Merupakan imunisasi yang digunakan
dalam memberikan atau mencegah terjainya penyakit campak (measles), gondong,
parotis epidemika (mumps) dan rubella (campak jerman). Dalam imunisasi MMR ini
antigen yang dipakai adalah virus campak strain Edmonson yang dilemahkan, virus
rubella strain RA 27/3 dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan pada bayi
usia di bawah 1 tahun karena dikhawatirkan terjadi interferensi dengan antibody
maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemic sebaiknya diberikan
imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4- 6 bulan atau 9-11 bulan dan
boster dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan.
7.
Imunisasi
Tiphus Abdominalis
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit tifus abdominalis, dalam persendiannya
khususnya di Indonesia terdapat tiga jenis vaksin tifus abdominalis di
antaranya kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan ( vivotif,berna) dan antigen
capsular Vi polysaccharide ( Typhim Vi, Pasteur Meriux ). Pada vaksin kuman
yang dimatikan dapat diberikan untuk bayi 6-12 bulan adalah 0,1 ml, 1-2 tahun
0,2 ml, dan 2-12 tahun adalah 0,5 ml, pada imunisasi awal dapat diberikan
sebanyak 2 kali dengan interval empat minggu kemudian penguat setelah satu
tahun kemudian. Pada vaksin kuman yang dilemahkan dapat diberikan dalam bentuk
capsul enteric coated sebelum makan pada hari 1,2,5, pada anak di atas usia 6
tahun dan pada antigen capsular diberikan pada usia di atas dua tahun dan dapat
diulang tiap 3 tahun.
8.
Imunisasi
Varicella
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit varicella (cacar air).Vaksin varicella
merupakan virus hidup varicella zoozter strain OKA yang dilemahkan. Pemberian
vaksin varicella dapat diberikan suntikan tunggal pada usia 12 tahun di daerah
tropic dan bila di atas usia 13 tahun dapat diberikan dua kali suntikan dengan
interval 4-8 minggu.
9.
Imunisasi
Hepatitis A
Merupakan imunisasi yang digunakan
untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A. Pemberian imunisasi ini dapat
diberikan pada usia diatas dua tahun. Untuk imunisasi awal dengan menggunakan
vaksin Havrix (isinya virus hepatitis A strain HM175 yang inactivated) dengan 2
suntikan dengan interval 4 minggu dan boster pada enam bulan kemudian dan
apabila menggunakan vaksin MSD dapat dilakukan tiga kali suntikan pada usia 0,6
dan 12 bulan.
10.
Imunisasi
HiB (Haemophilus Influenzae Tipe B)
Merupakan imunisasi yang diberikan
untuk mencegah terjadinya penyakit influenza tipe b. Vaksin ini adalah bentuk
polisakarida murbi (PRP : purified capsular polysaccharide) kuman H. Influenzae
tipe B. Antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi dengan protein-protein
lain seperti toksoid tetanus (PRP-T),toksoid dipteri (PRP-D atau PRPCR50) atau
dengan kuman menongokokus (PRP-OMPC). Pada pemberian imunisasi awal dengan
PRP-T dilakukan dengan tiga suntikan dengan interval 2 bulan kemudian vaksin
PRP OMPC dilakukan dengan 2 suntikan dengan interval 2 bulan kemudian bosternya
dapat diberikan pada usia 18 bulan.
d. Cara Kerja Imunisasi Melawan
Penyakit
Imunisasi bekerja dengan cara merangsang pembentukan
antibodi terhadap mikroorganisme tertentu tanpa menyebabkan seseorang sakit
terlebih dahulu. Vaksinasi, zat yang digunakan untuk membentuk imunitas tubuh,
terbuat dari mikroorganisme ataupun bagian dari mikroorganisme penyebab infeksi
yang telah dimatikan atau dilemahkan, sehingga tidak akan membuat penderita
jatuh sakit. Vaksin kemudian dimasukan kedalam tubuh yang biasanya melalui
suntikan. Sistem pertahanan tubuh kemudian akan bereaksi terhadap vaksin yang
dimasukan ke dalam tubuh tersebut sama seperti apabila mikroorganisme menyerang
tubuh dengan cara membentuk antibodi. Antibodi kemudian akan membunuh vaksin
tersebut layaknya membunuh mikroorganisme yang menyerang tubuh. Kemudian
antibodi akan terus berada di peredaran darah membentuk imunitas. Ketika suatu
saat tubuh diserang oleh mikororganisme yang sama dengan yang terdapat di dalam
vaksin, maka antibodi akan melindungi tubuh dan mencegah terjadinya infeksi.
B. Gangguan
Kesehatan yang sering terjadi pada Bayi Usia
1 bulan – 11 bulan
1.
DIARE
Diare adalah buang air besar dengan
frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan
atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya
tampak sehat (A.H. Markum, 1999).
a. Penyebab
·
Bayi
terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
·
Infeksi
silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan
sanitasi yang buruk
·
Dot
yang tidak disterilkan sebelum digunakan
·
Makanan
yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
·
Intoleransi
lemak, disakarida dan protein hewani
·
Infeksi
kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
·
Sindroma
malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
·
Penyakit
infeksi (campak, ISPA, OMA)
·
Menurunnya
daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
b. Jenis
diare
·
Diare
akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
·
Disentri,
terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada
saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
·
Diare
persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun
disentri
c. Tanda dan
gejala
·
Gejala
sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah
dan diare
·
Feses
mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir
dan berair serta frekuensinya bertambah sering
·
Cengeng,
gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
·
Terdapat
tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun),
ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
·
Pucat
anus dan sekitarnya lecet
·
Pengeluaran
urin berkurang/tidak ada
·
Pada
malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan
terdapat butiran lemak
·
Pada
intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
·
Pada
alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah
d. Komplikasi
·
Kehilangan
cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
·
Syok
hipovolemik yang dapat memicu kematian
·
Penurunan
berat badan dan malnutrisi
·
Hipokalemi
(rendahnya kadar kalium dalam darah)
·
Hipokalsemi
(rendahnya kadar kalsium dalam darah)
·
Hipotermia
(keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
·
Asidosis
(keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)
2.
DERMATITIS ATOPIK ( EKSIM SUSU )
Dermatitis
atopik adalah
penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh, diturunakn dalam
keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma.
a. Penyebab
Belum jelas, sangat kompleks
a. “Eksim susu” dulu disangka
penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi justru mengandung zat
pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi
b. Faktor kulit yang ekring
c. Faktor kebersihan diri (personal
hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang
d. Faktor hidup kurang sehat, yaitu
istirahat dan asupan nutrisi yang kurang
e. Faktor perilaku dan emosi
f. Alergi terhadap makanan seperti
susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain
b. Gambaran
klinik
g. Lokasi pada bayi biasanya di muka
terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih
kering
h. Terasa sangat gatal
i. Warna kulit kemerahan, ukuran kecil
sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah atau berdarah. Setelah itu
akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik
dan kering
j. Mudah terkena infeksi bakteri, virus
atau jamur
c. Penatalaksanaan
Mencegah kekambuhan
k. Mencegah makanan penyebab alergi dan
memberikan makanan pengganti
l. Cegah allergen lingkungan seperti
debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan lingkungan yang bersih
m. Kebersihan perseorangan yang
terjaga (seperti kulit lembab dan bersih)
n. Hindari suasana sedih, kesal dan
depresi
d. Pengobatan (kolaborasi)
o. Hindari faktor pencetus dan
pemeliharaan kulit
p. Obat anti gatal
q. Kortikosteroid salep (berikan
tipis-tipis)
Efek
samping kortikosteroid :
penipisan kulit, gangguan
pertumbuhan tulang, gangguan siklus hormone
3.
DIAPER RASH (RUAM POPOK)
Diaper
rash adalah
ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat
kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa
bercak-bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah. Iritasi terjadi
karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper
rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri
dari maternal fecal.
a. Penyebab
- Sering terjadi pada usia 9-12 bulan,
tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet
- Kebersihan kulit yang tidak terjaga
- Udara atau suhu lingkungan yang
teralu panas atau lembab
- Kulit bayi masih peka sehingga mudah
iritasi
- Popok yang basah karena urin dan
feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan lipase)
- Lebih parah pada bayi yang
mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan protein lebih tinggi
sehingga kadar amonia/urea lebih pekat)
- Infeksi jamur Candida albicans dan
infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan perubahan sistem imun
- Popok yang mengiritasi akibat sabun,
karet, plastik dan detergen yang keras
- Diare sehingga menyebabkan iritasi
kulit
b. Tanda dan
gejala
- Iritasi pada kulit yang terkena
muncuul sebagai erithema
- Erupsi pada daerah kontak yang
menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha bagian atas dan
lipatan-lipatan kulit
- Erupsi dapat berupa bercak kering,
merah dan bersisik
- Keadaan lebih parah terdapat pada
papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi
- Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri
c. Penatalaksanaan
-
Menjaga
kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin,
bokong, lipatan selangkangan
-
Daerah
yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering)
-
Menjaga
kebersihan pakaian danperlengkapan
-
Setiap
BAB dan BAK bayi segera dibersihkan.
-
Untuk
membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan
dengan minyak atau sabun mild dan air hangat
-
Popok
dicuci dengan detergen yang lembutMengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru
dipasang dan menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas
pemakaiannya
-
Menggunakan
popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki
sirkulasi udara.
-
Posisi
tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi
d. Pengobatan
-
Mengoleskan
krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang meradang
-
Memberikan
salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1%
-
Salep
anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin)
4.
DERMATITIS
SEBOROIK/CRADLE CAP
Dermatitis
seboroik adalah
penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. Dermatitis
seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan oleh
vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus.
Penyakit ini biasanya dimulai dari
kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan. Ada yang
mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan
sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang
mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi
bagaimana hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas.
Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak,
makanan berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi.
a.
Penyebab
Kurang jelas & Berkaitan dengan
sistem imun dan hygiene yang buruk Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada
kepala bayi yang kemudian terinfeksi staphylococcus. Sering terjadi pada
penderita HIV-AIDS dan anak-anak.
b.
Gejala
- Semacam noda berwarna kuning yang
berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak.
Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata
dan telinga.
- Exudat seborrhoic pada kulit kepala
(masalah kosmetik)
c.
Diagnosis banding
Atopik dermatitis dengan gejala
eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi muda.
d.
Penatalaksanaan
- Oleskan atau basahi kerak dengan
baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang
berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak mengelupas
- Mengeluarkan kerak yang tersangkut
di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk memudahkan perawatan)
- Dapat juga digunakan sikat rambut
yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk menghindari iritasi pada kulit
kepala bayi
- Pada keadaan tertentu dapat diberi
kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical
- Menjaga kebersihan bayi dengan
memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo
anti seboroik.
5. ISPA
ISPA adalah infeksi pada saluran pernapasan atas yang biasanya ditandai dengan bersin-bersin, hidung tersumbat atau meler, demam dan mungkin juga batuk. Jenis umum ISPA adalah pilek dan flu. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ISPA adalah dengan memperbanyak beristirahat. Pilek dan flu biasanya hanya berlangsung beberapa hari saja dan tidak perlu penanganan dokter. Jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik, konsultasikan dengan dokter karena mungkin ada infeksi (lain) yang lebih serius. Beberapa jenis flu sangat berbahaya sehingga perlu penanganan cepat.
BAB III
KESIMPULAN
1.
Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan
mulai dari konsepsi sampai dewasa.
2.
Tumbuh kembang mengikuti pola yang sama dan tertentu,
tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan lainnya.
3.
Tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan
lingkungan.
4.
Penting nya ibu dalam ekologi anak, para genetik
faktor yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh
psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang post natal dan perkembangan
kepribadian anak.
5.
Perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
6.
Perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
DAFTAR PUSTAKA
http://kesehatanbangsa.blogspot.co.id/2014/03/makalah-asuhan-bayi-baru-lahir-neonatus.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar