Kehamilan

Jumat, 15 April 2016

makalah asuhan neonatus



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Bayi baru lahir yaitu kondisi dimana bayi baru lahir  (neonatus), lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram.Neonatus (BBL) adalah masa kehidupan pertama diluar rahim sampai dengan usia 28 hari,dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan didalam rahim menjadi diluar rahim.Pada masa ini terjadi pematangan organ hampir pada semua system.
Neonatus (BBL) bukanlah miniature orang dewasa,bahkan bukan pula miniature anak.Neonatus mengalami masa perubahan dari kehidupan didalam rahim yang serba tergantung pada ibu menjadi kehidupan diluar rahim yang serba mandiri.Masa perubahan yang paling besar terjadi selama jam ke 24-72 pertama.Transisi ini hampir meliputi semua system organ tapi yang terpenting bagi anastesi adalah system pernafasan sirkulasi,ginjal dan hepar.

B.     Rumusan Masalah
1.         Materi Penyuluhan kepada keluarga Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan
2.         Gangguan kesehatan ( ISPA, Diare, Penyakit kulit ) yang terjadi pada Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan

C.     Tujuan
1.         Untuk mengetahui apa saja materi yang harus disampaikan pada keluarga Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan
2.         Untuk mengetahui penyakit yang sering timbul pada Bayi usia 1 bulan sampai 11 bulan
BAB II
PEMBAHASAN

A.   Materi Penyuluhan Bayi Usia 1 bulan – 11 bulan
1.    Nutrisi
Gizi atau disebut juga nutrisi, merupakan ilmu yang mempelajari perihal makanan serta hubungan dengan kesehatan. Ilmu pengetahuan tentang gizi (nutrisi) membahas sifat-sifat nutrient ( zat-zat gizi) yang terkandung dalam makanan, pengaruh metaboliknya serta akibat yang ditimbulkan bila terdapat kekurangan (ketidakcukupan) zat gizi.
Nutrisi adalah keseluruhan berbagai proses dalam tubuh makhluk hidup untuk menerima bahan – bahan dari lingkungan hidupnya dan menggunakan bahan – bahan (tersebut agar menghasilkan berbagai aktivitas dalam tubuhnya sendiri Mary,2000).
Fungsi :
a.       Memelihara kesehatan dan memulihkan dari sakit.
b.      Pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta psikomotor.
c.       Mengembangkan kemampuan bayi untuk menerima bermacam makanan dengan berbagai rasa dan tekstur
d.      Mengembangkan kemampuan bayi untuk menguyah dan menelan

1.      Komponen Zat Gizi Yang Dibutuhkan oleh Bayi
Zat gizi merupakan unsur yang penting dalam nutrisi, yang dapat memberikan fungsi tersendiri, kebutuhan nutrisi tidak dapat berfungsi secara optimal, kalau tidak mengandung beberapa zat gizi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Beberapa zat gizi yang dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan makro dan mikro. Untuk zat gizi makro terdiri dari kalori dan air, untuk kalori berasal dari karbohidrat, protein, lemak, dan air, sedangkkan kelompok zat gizi mikro terdiri dari vitamin dan mineral.
a.       Karbohidrat
Karbohidrat merupakan sumber energi yang tersedia dengan mudah di setiap makanan, karbohidrat harus tersedia dalam jumlah yang cukup. Dapat diperoleh dari beras, roti, macaroni, kentang, tepung beras, tepung maizena, tepung kacang hijau, terigu, jagung, singkong, ubi.
Diperlukan untuk menunjang aktivitas anak seperti: bergerak, berlari, bermain dll.
b.       Protein
Protein adalah zat gizi dasar yang berguna dalam pembentukan protoplasma sel ( sebagai zat pembangun). Terdiri dari: daging, ikan, susu, ati, ayam, tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Diperlukan untuk pembentukan berbagai jaringan tubuh baru seperti dll.
c.       Lemak
Lemak merupakan sumber yang kaya akan energi dan juga sebagai pelindung organ tubuh, seperti pembuluh darah, saraf, organ dan lain-lain dan juga dapat membantu dalam pengaturan suhu tubuh. Lemak berperan dalam pengangkutan vitamin A,D,E, dan K. lemak dapat diperoleh dari daging, minyak, margarine dan mentega.
d.      Vitamin
Vitamin berguna dalam mengatur pertumbuhan dan dapat mencegah berbagai penyakit. Kekurangan vitamin disebut avitaminosis. Terdapat beberapa jenis vitamin yaitu :
-       vitamin A ( sayuran yang berwarna hijau, buah-buahan yang berwarna kunning jingga, seperti bayam, kangkung, pepaya, buncis, wortel, mangga, jeruk, pisang ,dll
-       vitamin B, B1 ( Thiamin): Ikan, daging ayam, kacang-kacangan dan susu.
-       B2 (Riboflavin) larut dalam air : Telur, sayuran hijau, daging tak  berlemak, susu, bijian lengkap.
-       B6 (piridoksin) : Biji-Bijian, sayuran, daging , pisang
-       B12 (sianokobalamin) : Hati dan ginjal, susu, daging.
-       vitamin C (asam askorbat) : Buah, jus jeruk
-       vitamin D : Minyak hati ikan, susu, kuning, telur
-       vitamin E (alfa tokoferol) : Sayuran daun hijau
-       vitamin K : Hati, telur, saluran daun hijau
e.     Mineral
Mineral dibutuhkan dalam jumlah sedikit,tetapi sangat penting. Mineral dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu :
-       Mineral makro adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah banyak > 100 mg/hari. Yang termasuk mineral makro adalah natrium, klor, fosfor, kalsiuum, magnesium, dan sulfur.
-       Mineral mikro adalah mineral yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit < 100mg/hari, yang termasuk mineral mikro adlah mangan, fluor, yodium, kobalt, besi dan tembaga

2.      Bahan Makanan Yang Dianjurkan
-       Sumber KarboHidrat : mulai dari tepung beras, tepung maezena, kentang, tepung hunkwe sampai ke beras, menjelang 1 tahun dapat diberikan macaroni, jagung manis.
-       Sumber protein: keju, kuning telur, ayam/unggas, daging sapi, kerbau, hati ayam, ikan yang mengandung omega 3 (salmon, tuna, kembung, dll), tempe, thu, kajang hijau.
-       Sayuran: wortel, bayam, kangkung, labu kuning, brokoli, daun katuk, tomat merah, kembang kol, dll.
-       Buah: pisang, advokad, mangga, papaya, semangka, melon, belimbing, dll.
-       Yougurt tawar
-       Minyak (minyak kelapa, mentega tawar).

3.      Kebersihan Makanan Untuk Bayi
Kebersihan makanan pendamping ASI perlu mendapatkan perhatian khusus. Makanan pendamping ASI yang kurang bersih dan sudah tercemar dapat menyebabkan diare atau cacingan pada bayi.Yang perlu diperhatikan dalam memberikan makanan pendamping pada bayi usia 6-7 bulan adalah sbb:
-       Teruskan pemberian ASI
-       Berikan makanan lumat (seperti pisang dan papaya) 2x sehari
-       Berikan ASI dulu baru makanan pendamping.

4.      MATERI PEMBERIAN IMUNISASI
Imunisasi merupakan usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin kedalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu. Sedangkan yang dimaksud vaksin adalah bahan yang dipakai untuk merangsang pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui suntikan seperti vaksin BCG, DPT, Campak, dan melalui mulut seperti vaksin polio.
a.       Tujuan Imunisasi
Pemberian imunisasi pada anak yang mempunyai tujuan meningkatkan derajat imunitas, memberikan proteksi imun dengan menginduksi respons memori terhadap patogen tertentu / toksin dengan menggunakan preparat antigen non-virulen/non-toksik. Kekebalan tubuh juga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya terdapat tingginya kadar antibodi pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikkan, waktu antara pemberian imunisasi, mengingat efektif  dan tidaknya imunisasi tersebut akan tergantung dari faktor yang mempengaruhinya sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri anak.


b.      Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi
Hingga saat ini terdapat sepuluh jenis vaksinasi yang dapat mencegah terjadinya infeksi pada anak, yaitu :
a.       Polio
b.      Campak
c.       Gondongan
d.      Rubella (campak Jerman)
e.       Difteria
f.       Tetanus
g.      Batuk rejan (Pertusis)
h.      Meningitis
i.        Cacar air
j.        Hepatitis B
C. Jenis Imunisasi
a. Imunisasi  Aktif
Merupakan pemberian zat sebagai antigen yang diharapkan akan terjadi suatu proses infeksi buatan sehingga tubuh mengalami reaksi imunologi spesifik yang akan menghasilkan respons seluler dan humoral serta dihasilkannya sel memori, sehingga apabila benar-benar terjadi infeksi maka tubuh secara cepat dapat merespons. Dalam imunisasi aktif terdapat empat macam kandungan dalam setiap vaksinnya antara lain :
1)        Antigen merupakan bagian dari vaksin yang berfungsi sebagai zat atau mikroba guna terjadinya semacam infeksi buatan dapat berupa poli sakarisa, toksoid atau virus dilemahkan atau bakteri dimatikan
2)        Pelarut dapat berupa air steril atau juga berupa cairan kultur jaringan.
3)        Preservatif, stabilizer, dan antibiotika yang berguna untuk menghindari tumbuhnya mikroba dan sekaligus untuk stabilisasi antigen.
4)        Adjuvan yang terdiri dari garam aluminium yang berfungsi untuk meningkatkan imunogenitas antigen.

c.       Imunisasi Pasif
Merupakan pemberian zat (immunoglobulin) yaitu suatu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat berasal dari plasma manusia atau binatang yang digunakan untuk mngatasi mikroba yang diduga sudah masuk dalam tubuh yang terinfeksi.
Dalam pemberian imunisasi pada anak dapat dilakukan dengan beberapa imunisasi yang dianjurkan antara lain :
1.         BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit TBC yang berat sebab terjadinya penyakit TBC yang primer atau yang ringan dapat terjadi walaupun sudah dilakukan imunisasi BCG, pencegahan imunisasi BCG untuk TBC yang berat seperti TBC pada selaput otak, TBC Milier (pada seluruh lapangan paru) atau TBC tulang. Imunisasi BCG ini merupakan vaksin yang  mengandung kuman TBC yang telah dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi BCG adalah  satu kali dan waktu pemberian imunisasi BCG pada umur 0-11 bulan (umumnya 2 bulan), akan tetapi pada umumnya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan, kemudian cara pemberian imuniasi BCG melalui intradermal.  Efek samping pada BCG dapat terjadi ulkus pada daerah suntikan dan dapat terjadi limfadenitis regional  dan reaksi  panas.
2.             Imunisasi DPT ( Diphteri, Pertusis, dan Tetanus )
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah  terjadinya penyakit difteri.Imunisasi DPT ini merupakan vaksin yang mengandung racun kuman difteri yang telah dihilangkan sifat racunnya akan tetapi masih dapat merangsang pembentukan zat antibody (toksoid). Frekwensi pemberian imunisasi DPT adalah  3 kali,dengan maksud pemberian pertama zat anti terbentuk masih sangat sedikit (tahap pengenalan) terhadap vaksin dan mengaktifkan organ-organ tubuh membuat zat anti,kedua dan ketiga terbentuk zat anti yang cukup. Waktu pemberian imunisasi DPT antara umur  2 – 11 bulan dengan interval 4 minggu.  Cara pemberian imunisasi DPT melalui intramuskuler.  Efek samping pada DPT mempunyai efek ringan dan efek berat,efek ringan seperti pembengkakan dan nyeri pada tempat penyuntikan,demam sedangkan efek berat dapat menangis hebat kesakitan kurang lebih empat jam,kesadaran menurun,terjadi kejang, enselopati, dan shock.
3.             Imunisai Polio
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit poliomyelitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan. Frekuensi pemberian imunisasi polio adalah empat kali.Waktu pemberian imunisasi polio pada umur 0-11 bulan dengan interval pemberian 4 minggu. Cara pemberian imunisasi polio melalui oral.
4.             Imunisasi Campak
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular.Kandungan vaksin ini adalah virus yang dilemahkan.Frekuensi  pemberian imunisasi campak adalah satu kali.Waktu pemberian imunisasi campak melalui subkutan kemudian efek sampingnya adalah dapat terjadi ruam pada tempa suntikan dan panas.
5.             Imunisasi Hepatitis B
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis yang kandungannya adalah HbsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis tiga kali. Waktu pemberian imunisasi hepatitis B pada umur 0 – 11 bulan. Cara pemberian imunisasi hepatitis ini adalah intramukular.
6.             Imunisasi MMR ( Measles, Mumps, dan Rubela )
Merupakan imunisasi yang digunakan dalam memberikan atau mencegah terjainya penyakit campak (measles), gondong, parotis epidemika (mumps) dan rubella (campak jerman). Dalam imunisasi MMR ini antigen yang dipakai adalah virus campak strain Edmonson yang dilemahkan, virus rubella strain RA 27/3 dan virus gondong. Vaksin ini tidak dianjurkan pada bayi usia di bawah 1 tahun karena dikhawatirkan terjadi interferensi dengan antibody maternal yang masih ada. Khusus pada daerah endemic sebaiknya diberikan imunisasi campak yang monovalen dahulu pada usia 4- 6 bulan atau 9-11 bulan dan boster dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan.
7.             Imunisasi Tiphus Abdominalis
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit tifus abdominalis, dalam persendiannya khususnya di Indonesia terdapat tiga jenis vaksin tifus abdominalis di antaranya kuman yang dimatikan, kuman yang dilemahkan ( vivotif,berna) dan antigen capsular Vi polysaccharide ( Typhim Vi, Pasteur Meriux ). Pada vaksin kuman yang dimatikan dapat diberikan untuk bayi 6-12 bulan adalah 0,1 ml, 1-2 tahun 0,2 ml, dan 2-12 tahun adalah 0,5 ml, pada imunisasi awal dapat diberikan sebanyak 2 kali dengan interval empat minggu kemudian penguat setelah satu tahun kemudian. Pada vaksin kuman yang dilemahkan dapat diberikan dalam bentuk capsul enteric coated sebelum makan pada hari 1,2,5, pada anak di atas usia 6 tahun dan pada antigen capsular diberikan pada usia di atas dua tahun dan dapat diulang tiap 3 tahun.
8.             Imunisasi Varicella
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit varicella (cacar air).Vaksin varicella merupakan virus hidup varicella zoozter strain OKA yang dilemahkan. Pemberian vaksin varicella dapat diberikan suntikan tunggal pada usia 12 tahun di daerah tropic dan bila di atas usia 13 tahun dapat diberikan dua kali suntikan dengan interval 4-8 minggu.
9.             Imunisasi Hepatitis A
Merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit hepatitis A. Pemberian imunisasi ini dapat diberikan pada usia diatas dua tahun. Untuk imunisasi awal dengan menggunakan vaksin Havrix (isinya virus hepatitis A strain HM175 yang inactivated) dengan 2 suntikan dengan interval 4 minggu dan boster pada enam bulan kemudian dan apabila menggunakan vaksin MSD dapat dilakukan tiga kali suntikan pada usia 0,6 dan 12 bulan.
10.         Imunisasi HiB (Haemophilus Influenzae Tipe B)
Merupakan imunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit influenza tipe b. Vaksin ini adalah bentuk polisakarida murbi (PRP : purified capsular polysaccharide) kuman H. Influenzae tipe B. Antigen dalam vaksin tersebut dapat dikonjugasi dengan protein-protein lain seperti toksoid tetanus (PRP-T),toksoid dipteri (PRP-D atau PRPCR50) atau dengan kuman menongokokus (PRP-OMPC). Pada pemberian imunisasi awal dengan PRP-T dilakukan dengan tiga suntikan dengan interval 2 bulan kemudian vaksin PRP OMPC dilakukan dengan 2 suntikan dengan interval 2 bulan kemudian bosternya dapat diberikan pada usia 18 bulan.


d.      Cara Kerja Imunisasi Melawan Penyakit
Imunisasi bekerja dengan cara merangsang pembentukan antibodi terhadap mikroorganisme tertentu tanpa menyebabkan seseorang sakit terlebih dahulu. Vaksinasi, zat yang digunakan untuk membentuk imunitas tubuh, terbuat dari mikroorganisme ataupun bagian dari mikroorganisme penyebab infeksi yang telah dimatikan atau dilemahkan, sehingga tidak akan membuat penderita jatuh sakit. Vaksin kemudian dimasukan kedalam tubuh yang biasanya melalui suntikan. Sistem pertahanan tubuh kemudian akan bereaksi terhadap vaksin yang dimasukan ke dalam tubuh tersebut sama seperti apabila mikroorganisme menyerang tubuh dengan cara membentuk antibodi. Antibodi kemudian akan membunuh vaksin tersebut layaknya membunuh mikroorganisme yang menyerang tubuh. Kemudian antibodi akan terus berada di peredaran darah membentuk imunitas. Ketika suatu saat tubuh diserang oleh mikororganisme yang sama dengan yang terdapat di dalam vaksin, maka antibodi akan melindungi tubuh dan mencegah terjadinya infeksi.

B.   Gangguan Kesehatan yang sering terjadi pada Bayi Usia 1 bulan – 11 bulan

1.      DIARE
Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999).



a.       Penyebab
·           Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
·           Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan sanitasi yang buruk
·           Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
·           Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
·           Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
·           Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
·           Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
·           Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
·           Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)
b.      Jenis diare
·           Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
·           Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
·           Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun disentri
c.       Tanda dan gejala
·           Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti muntah dan diare
·           Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir dan berair serta frekuensinya bertambah sering
·           Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
·           Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
·           Pucat anus dan sekitarnya lecet
·           Pengeluaran urin berkurang/tidak ada
·           Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan terdapat butiran lemak
·           Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
·           Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah
d.      Komplikasi
·           Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
·           Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
·           Penurunan berat badan dan malnutrisi
·           Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
·           Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
·           Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
·           Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam tubuh)
2.      DERMATITIS ATOPIK ( EKSIM SUSU )
Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh, diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma.

a.       Penyebab
Belum jelas, sangat kompleks
a.    “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi
b.    Faktor kulit yang ekring
c.    Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang
d.   Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang
e.    Faktor perilaku dan emosi
f.     Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain

b.      Gambaran klinik
g.    Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan siku, lutut biasanya lebih kering
h.    Terasa sangat gatal
i.      Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau kehitaman, kulit bersisik dan kering
j.      Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur

c.       Penatalaksanaan
Mencegah kekambuhan
k.    Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti
l.      Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan lingkungan yang bersih
m.  Kebersihan perseorangan yang terjaga  (seperti kulit lembab dan bersih)
n.    Hindari suasana sedih, kesal dan depresi

d.      Pengobatan (kolaborasi)
o.    Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit
p.    Obat anti gatal
q.    Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis)
Efek samping kortikosteroid :
penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan siklus hormone

3.      DIAPER RASH (RUAM POPOK)
Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-bercak iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah. Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari maternal fecal.
a.       Penyebab
-       Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet
-       Kebersihan kulit yang tidak terjaga
-       Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab
-       Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi
-       Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan lipase)
-       Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih pekat)
-       Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan perubahan sistem imun
-       Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang keras
-       Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit

b.      Tanda dan gejala
-       Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema
-       Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha bagian atas dan lipatan-lipatan kulit
-       Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik
-       Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi
-       Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri

c.       Penatalaksanaan
-            Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin, bokong, lipatan selangkangan
-            Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering)
-            Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan
-            Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan.
-            Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan dengan minyak atau sabun mild dan air hangat
-            Popok dicuci dengan detergen yang lembutMengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan menggunkan pampers dengan daya serap yang tinggi dan pas pemakaiannya
-            Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki sirkulasi udara.
-            Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi

d.      Pengobatan
-            Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang meradang
-            Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1%
-            Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin)

4.       DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP
Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus.
Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan.  Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang mengalami penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana hubungan antara kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman beralkohol dan gangguan emosi.

a.       Penyebab
Kurang jelas & Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian terinfeksi staphylococcus. Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak.

b.      Gejala
-       Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap), kadang di alis/bulu mata dan telinga.
-       Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik)

c.       Diagnosis banding
Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi muda.

d.      Penatalaksanaan
-       Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak mengelupas
-       Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk memudahkan perawatan)
-       Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk menghindari iritasi pada kulit kepala bayi
-       Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical
-       Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik.

5.     ISPA

ISPA adalah infeksi pada saluran pernapasan atas yang biasanya ditandai dengan bersin-bersin, hidung tersumbat atau meler, demam dan mungkin juga batuk. Jenis umum ISPA adalah pilek dan flu. Cara terbaik untuk mengatasi masalah ISPA adalah dengan memperbanyak beristirahat. Pilek dan flu biasanya hanya berlangsung beberapa hari saja dan tidak perlu penanganan dokter. Jika gejala memburuk atau tidak kunjung membaik, konsultasikan dengan dokter karena mungkin ada infeksi (lain) yang lebih serius. Beberapa jenis flu sangat berbahaya sehingga perlu penanganan cepat.



















BAB III
KESIMPULAN

1.    Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa.
2.    Tumbuh kembang mengikuti pola yang sama dan tertentu, tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan lainnya.
3.    Tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
4.    Penting nya ibu dalam ekologi anak, para genetik faktor yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang post natal dan perkembangan kepribadian anak.
5.    Perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
6.    Perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.










DAFTAR PUSTAKA

http://kesehatanbangsa.blogspot.co.id/2014/03/makalah-asuhan-bayi-baru-lahir-neonatus.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar